KISAH LAMA ; GERAKAN LATEN KOMUNIS MERAMBAH KAMPUS TRISAKTI

KISAH LAMA ; GERAKAN LATEN KOMUNIS MERAMBAH KAMPUS TRISAKTI

(pbhmi.com), Suasana kelamnya malam menyelimuti jalanan sekitar menteng pada 30 September 1965 dini hari. Tiba –tiba kesunyian terpecah akibat munculnya berbagai derap langkah sepatu manusia yang mengeksekusi sejumlah jenderal. Jerit tangis keluarga dan sanak familiy membahana memecah kesunyian malam menyaksikan penculikan dan pembunuhan terhadap keluarganya.



Tapi apa hendak di kata kekejaman telah terjadi, bukan hanya manusia yang menangis bahkan malam sebagai saksi kejadian tersebut tidak mampu berbuat apa-apa selain meneteskan air matanya. Kejam memang, perlakuan yang dilakukan oleh sekelompok komunitas yang terorganisir ini. Mereka melakukan penyayatan menggunakan silet -salah satu ciri khas kelompok ini-. ”Darah itu merah Jenderal” bahasa yang sering di dengar –baik sebagai guyonan maupun lainnya- di masyarakat sebagai wujud perlawanan terhadap kelompok ini. Palu-Arit merupakan simbol kebanggaan kelompok ini, simbol yang selalu dibanggakan karena akan dapat menguasai Negera Republik Indonesia melalui kudeta 30 September 2006. Tapi apa mau dikata Tuhan berkata lain. Tidak mungkin ada dunia tanpa adanya Tuhan dan tidak mungkin orang yang tidak ber-Tuhan menguasai dunia. Itulah yang terjadi pada kelompok tak ber-Tuhan ini, kudeta mereka digagalkan.
Siapa sebenarnya kelompok yang terorganisir ini ?

Seluruh rakyat di Indonesia pasti tahu siapa mereka. Mereka adalah sekelompok komunitas yang menamakan dirinya ”Komunis” dengan lambang kebanggaan ”PALU DAN ARIT”.
Setelah lebih 41 tahun hilang dari peredaran –pada waktu itu ada pernyataan bahwa komunis tidak bisa hidup di Indonesia bahkan sampai sekarang masih ada- akhirnya mereka muncul kembali. Dengan model dan modus yang sama, mereka menyerang kelompok yang sama pula. Dendam lama terbuka kembali.

Akan tetapi perlu diwaspadai apakah ini perbuatan mereka murni atau memang ada sekelompok komunitas yang coba memanfaatkan isu ini untuk kepentingan pribadinya atau ingin menjual bangsa ini.
Masyarakat mungkin bisa menilainya dan pembaca juga bisa menilainya.

0 Kommentarer:

Post a Comment