Pilot Pengebom Hiroshima Meninggal Dunia

Pilot Pengebom Hiroshima Meninggal Dunia



Komandan pesawat B-29 yang menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima, Jepang pada perang dunia kedua, Puls Warfiels Tibbets meninggal dunia di usia 92 tahun. Bom dengan berat lima ton yang dijatuhkannya pada pagi 6 Agustus 1945 telah membunuh sekitar 140 ribu jiwa penduduk Jepang. Pada peringatan 60 tahun pengeboman itu, beberapa waktu lalu, tiga kru yang masih hidup-termasuk Tibbets mengatakan mereka tidak menyesal, karena bom atom tersebut merupakan peristiwa penting dalam sejarah. Saat itu ia mengatakan, "Ribuan tentara dan keluarga mereka mungkin tidak akan hidup hingga hari ini, bila kami tidak melakukan invasi ke kepulauan Jepang untuk mengakhiri perang (dunia kedua)."

Menurut berita yang ditulis Tempo Interaktif kemarin, Sabtu, Tibbets meninggal dunia setelah mengalami penurunan kesehatan selama dua bulan terakhir. Ia telah mewasiatkan keluarganya untuk tidak mengadakan upacara kematian ataupun memasang nisan dengan namanya untuk menghindari tempat peristirahatannya yang terakhir sebagai tempat protes ataupun demonstrasi.

Sejumlah warga Jepang yang selamat dalam serangan bom atom atas Hiroshima dalam kecamuk Perang Dunia II kemarin menyesalkan pilot pesawat Amerika Serikat yang menjatuhkan maut, meninggal tanpa kata maaf. Nori Tohei, 79 tahun, yang selamat dalam tragedi perang tersebut mengatakan, "Dia tak meminta maaf, beralasan, seperti pemerintah Amerika, bahwa pemboman itu menyelamatkan jutaan warga Amerika dan Jepang dengan pengakhiran perang." Tohei yang sebagai Wakil Konfederasi Organisasi Korban Bom A dan H yang kini tinggal di Tokyo menambahkan, "Tapi saya ingin dia berkunjung ke Hiroshima dan melihat langsung hasil yang dia buat dalam kepentingan kemanusiaan."

Tohei baru berusia 17 tahun pada 9 Agustus 1945, tiga hari setelah ledakan Hiroshima dan hari itu adalah bom atom Amerika kedua dijatuhkan di bagian selatan yakni kota Nagasaki. Amerika Serikat hingga saat ini secara resmi belum pernah meminta maaf atas serangan nuklir tersebut. Kepada AFP, hari Jumat, ia menuturkan, "Dia mendapat perintah sebagai prajurit tapi saya ingin dia menerima (pemboman) itu suatu kesalahan dan meminta maaf kepada mereka yang terbunuh atau yang dalam jangka waktu lama terluka akibat radiasi."

sumber: IRIB Bahasa Indonesia

0 Kommentarer:

Post a Comment