Menuju Masyarakat Kitab
Oleh: Endra Dwi Sukma Abadi
Sejarah menunjukkan bagaiman kitab suci merubah suatu masyarakat, tidak hanya di sebuah negara, tapi di seluruh dunia. Kitab suci sebagai rangkaian teks tertulis dari Tuhan mempunyai berbagai aspek yang melandasi sebuah perspektif dari segi sosial, budaya, bahkan politik.
Al-Qur’an bagi umat Islam tidak hanya sebagai sebuah pedoman tetapi juga menjadi guru bagi setiap muslim dalam menjawab berbagai pertanyaan yang ada di dunia. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah logika dan nalar berpikir manusia dapat menjangkau rangkaian teks yang terdapat dalam al-Qur’an?
Sekali lagi kita akan melihat jauh ke belakang di masa kejayaan Islam, dimana Islam telah melahirkan berbagai tokoh intelektual yang telah memberikan kontribusinya tidak hanya bagi dunia Islam tapi juga bagi dunia pada umumnyal. Sebut saja Ibnu Sina, yang oleh dunia barat lebih dikenal dengan nama Avicena. Atau Ibnu Rusyd yang dikenal dengan Averoes Keduanya adalah beberapa bukti bagaimana para pemikir Islam mengembangkan pemikirannya yang semuanya diilhami dari Al-Qur’an.
Saat itu pun pemikiran keduanya dianggap sebagai sebuah pemurtadan karena mencoba untuk menembus hal-hal yang dianggap sakral oleh umat Islam di masa itu. Kebesaran Islam yang ada saat ini tidka lain adalah warisan dari para pendahulu yang terus mengembangkan pemikirannya, tidak hanya untuk Islam tapi juga untuk dunia.
Akal kritis, bukanlah sebuah bid’ah yang harus diberangus hanya karena pikiran itu berkarya tentang manusia, tentang alam, tentang makhluk hidup. Atau bahkan jika pikiran itu mencoba bertanya tentang Nabinya, bahkan Tuhannya. Allah Rabb semesta alam memberikan karunia akal dan pikiran pada manusia untuk berpikir. Berpikir atas Islam sebagai agamanya dan Al-Qur’an sebagai kitab sucinya. Kejumudan yang terjadi dalam dunia Islam tidka lain dan tidka bukan dikarenakan oleh kultur yang telah mendarah daging di dalam diri umat islam, yaitu sebuah monopoli pemikiran yang hanya dipercayakan pada kalangan pemikir terdahulu, dengan tidak memberikan kesempatan adanya pemikiran-pemikiran baru yang mencoba menjawab kejumudan yang dialami oleh Islam di saat ini. Ketakutan atas perubahan jaman, dan hal-hal baru membuat umat Islam lupa keberadaan agamanya sebagai rahmatan lil ’alamain. Lupa bahwa Al-Qur’an merupakan pegangan hidup di dunia yang harus selalu dikaji untuk menunjukkan keabadian Al-Qur’an.
Kedewasaan berpikir, untuk mencoba menjauhkan segala bentuk prasangka tidak seharusnya menjadi luntur oleh egoisme kebenaran yang menjadi miliknya sendiri. Sebuah masyarakat yang hidup dengan kitab suci di tangannya mempunyai tugas untuk memahami dan untuk menerjemahkan isinya dalam sebuah masyarakat dimana ia berada. Sekali lagi tidak hanya untuk Islam, tetapi bagi seluruh dunia dan umat manusia.[]
*Alumni Pengurus HMI Cabang Surakarta Komisariat Fakultas Hukum UNS Periode 2005-2007
Menuju Masyarakat Kitab
Posted by Unknown
Labels: Artikel
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Kommentarer:
Post a Comment