Relasi Negara dan Agama


Oleh: Yasser Arafat, SH.


Agama saat ini merupakan realitas yang berada di sekeliling manusia. Masing-masing manusia memiliki kepercayaan tersendiri akan agama yang dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Agama yang telah menjadi kebutuhan dasar manusia ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial manusia tersebut.

Membangun Lingua Franca


Seseorang terhubung dengan orang lainnya melalui komunikasi. Tanpa komunikasi mustahil interaksi antar manusia terjadi. Oleh karena itu, menjadi satu hal yang penting bagi kita untuk menjaga keharmonisan interaksi antar sesama kita dengan menjaga komunikasi yang baik. Alih-alih ingin membuat hubungan semakin harmonis, akrab, ataupun solid, bisa jadi karena kesalahan sedikit dari cara berkomunikasi kita, malah pertengkaran yang timbul. Ya, itu tadi titik ekstrimnya. Atau mungkin pernah kita alami ketika kita sedang asyik berdiskusi atau ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman, tiba-tiba ada salah satu teman kita yang tiba-tiba salah tangkap maksud pembicaraan, arah pembicaraan, bahkan dia malah bahas masalah lain yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan. Jaka sembung bawa golok, alias ga nyambung…..bete kan??

Ekspektasi


Kehadiran seorang manusia di dunia dibekali dengan potensi-potensi. Secara umum manusia mempunyai potensi kehewanan dan potensi kemanusiaan. Potensi kehewanan adalah potensi untuk berpindah tempat, berkembang biak, makan, tumbuh dan lain sebagainya. Potensi kemanusiaannya adalah potensi untuk berpikir, beragama, bernegara, mengolah alam, membangun peradaban dan lain sebagainya.

Benarkah Mayoritas itu Pasti Benar?


Baru-baru ini aku berdialog di facebook dengan salah seorang teman. Dialog itu berawal saat seorang teman bertanya tentang sunni syiah. "Bukankah sunni dan syiah itu berbeda aqidah?" tanyanya.


Diskusi pun berjalan tidak seperti yang saya inginkan. Karena aku berharap dalam diskusi itu, masing-masing pihak mengajukan argumen dengan Al-Qur'an dan hadits, tetapi faktanya, lawan diskusiku tidak satupun mengutip ayat Al-Qur'an dan hadits sebagai landasan argumennya. Ia hanya berbicara soal kesesatan syiah, bahwa saya harus belajar dari ulama sunni, yang semuanya saya pikir lebih mengarah pada argumen ngawur.

HMI siapkan 50 pemantau Pilpres

Banjarsari (Espos) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Solo menyiapkan sebanyak 50 personel pemantau Pemilu dalam pelaksanaan Pemilihan Presiden ( Pilpres) Rabu (8/7) ini. Puluhan pemantau itu bakal ditempatkan di 50 kelurahan yang ada di Kota Solo. Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan, Adilla Prasetyo saat ditemui Espos, Selasa (7/7), mengungkapkan, penempatan pemantau Pemilu ini sebagai tindak lanjut atas kerja sama antara Pengurus Besar HMI dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).